Sunday, July 10, 2011

Pekerjaan Pindah ke Rumah

Ada sejumlah pekerja kantor yang biasa memindahkan pekerjaannya ke rumah. 5-6 hari per pekan bekerja +/- 8 jam per hari di kantor, ternyata tidak cukup diselesaikan di kantor. Boleh jadi pekerjaan kantor dari hari ke hari semakin bertambah. Tapi, apakah baik membawa pekerjaan kantor ke rumah?

Sementara di rumah bersibuk-sibuk dengan pekerjaan kantornya dan lupa ada suami/istri dan anak-anaknya yang menanti kebahagiaan berkumpul bersama-sama. Tuntutan pekerjaan kantor ternyata kian mengikis hak pekerja. Seolah-olah hidup 24 jam setiap harinya hanya untuk mengurusi pekerjaan kantornya!?

Sudah seharusnya pekerjaan kantor cukup dikerjakan di kantor. Bila memang tiba waktunya jam pulang kantor, sementara pekerjaan kantornya masih ada dan banyak, alangkah lebih baik ditunda dan dilanjutkan esok hari. Jadi pulang ke rumah tidak membebani lagi dengan segala pekerjaan kantor. Waktunya di rumah ya waktunya bersama keluarga, karena inilah seharusnya menjadi hak bagi pekerja.

Tapi tampaknya tidak semua bisa melakukan hal tadi. Tuntutan pekerjaan dari atasan menjadikan anak buahnya/pekerja bagai robot yang tak kenal lelah. Belum selesai satu pekerjaan, datang pekerjaan baru. Terus demikian seterusnya.

Seharusnya pimpinan/atasan menyadari bahwa anak buahnya adalah sama seperti dirinya. Sadar bahwa pekerjaan yang mewajibkan dibawa ke rumah terus-menerus membebani anak buahnya, justru tidaklah baik. Tuntutan yang banyak tersebut, bukan tidak mungkin membuat anak buahnya mengundurkan diri. Tentu bukan pilihan yang tepat di saat dunia pekerjaan tidak banyak terbuka banyak.

Bekerja di rumah
Lain lagi ada orang yang menyukai bekerja di rumah saja. Jadi bisa setiap hari ketemu istri/suami dan anak-anaknya. Sehingga prioritas keluarga selalu menjadi yang utama. Banyak orang yang menginginkan bekerja di rumah saja, tapi tidak semua profesi hanya bisa dilakukan di rumah. Jadi tergantung pilihan profesi yang sesuai, tepat dan memang bisa dilakukan di rumah.

Read More..

Sunday, July 03, 2011

Pilih Kaya atau Miskin?

Pasti jawabannya ingin kaya. Tapi, pernahkah berpikir bagaimana agar menjadi kaya? Tidak ada orang tiba-tiba langsung kaya (mendadak). Kalau ada, saya ingin tahu siapa orang kaya yang mendadak itu?

Membaca sejumlah kisah orang-orang kaya yang ditulis berbagai media, terdapat banyak kesamaan di sana. Di antaranya adalah mereka berjuang menjadi kaya dimulai dari hal yang kecil.

Biasanya mereka (orang-orang kaya,red) adalah para pengusaha. Bukan dari kalangan pejabat pemerintahan (eksekutif, legislatif atau yudikatif). Usaha mereka beragam. Banyak sekali yang menarik dipelajari dan diambil hikmahnya.

Saya sering membaca kisah-kisah mereka yang sukses. Tapi, tidak hanya sukses yang diceritakan. Ada pula kisah keprihatinan karena bangkrut sampai usahanya gagal berkali-kali. Bagi saya menarik sebagai bahan pembelajaran untuk saya ke depannya, jika saya terjun seperti mereka.

Berani!?
Sekarang tantangannya adalah apakah berani memilih jalan seperti mereka mulai sekarang? Jujur saya belum berani. Secara mental saya belum terlatih seperti mereka yang barangkali sudah lama bergelut di bidangnya masing-masing. Bahkan, mungkin ada di antara mereka mendapat didikan dari orangtuanya sejak kecil untuk belajar mengenal dan mengelola bisnis. Saya salut kepada mereka.

Tapi tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha. Di dalam bisnis tidak mengenal usia. Muda maupun tua sama-sama bersaing sehat 'merebut' pasar. Tinggal bagaimana teknik dan strateginya. Ada ilmu dan ada pengalaman akan sangat menentukan proses bisnis yang diinginkan.

Selain usaha, perlunya dibarengi dengan do'a. Inilah salah satu yang menguatkan mental dan spiritual bahwa kita tahu yang mengatur rezeki adalah Allah Subhanahu wa ta'ala. Jadi, ikhtiar sudah, hasilnya serahkan kepadaNYA.

Read More..

Saturday, July 17, 2010

Cabe Merah Harganya Bikin Kantong "Keriting"

Akhir-akhir ini cabe menjadi primadona pembicaraan berbagai media massa. Pasalnya, harga komoditas pedas ini semakin melambung tinggi. Di berita disebutkan harga cabe merah keriting bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Luar Biasa!!

Kalau sudah begini, belum pernah ada kejadian komoditas untuk bumbu masak dapur ini menjadi turun harganya. Kata pengamat bidang pertanian, ini disebabkan permainan harga para tengkulak. Mereka menaikkan harga komoditas pedas ini.

Begitu menggiurkannya harga cabe merah keriting ini, malah saya mencari tahu dan bertanya kepada ayah saya yang cukup berpengalaman di bidang pertanian. Kata ayah saya, menanam cabe itu bisa 5-6 kali panen. Tapi, perawatannya susah dan tidak mudah seperti sayur-sayuran. Terutama faktor hama yang sangat rentan terhadap tanaman cabe merah keriting ini. Dari hama yang menyerang batang, daun sampai buah cabe bisa gagal sebelum panen tiba. Kalau sudah terjadi serangan hama, para petani yang banyak menderita kerugian.

Read More..

Friday, June 25, 2010

Hampir Lupa

Setelah hampir satu bulan lebih tidak posting blog, akhirnya saya kembali mengisi blog ini lagi. Posting terakhir (April, red) dan satu-satunya di bulan itu, membuat saya hampir melupakan blog ini. Sadis!

Saking punya banyak blog tersebar sana-sini (padahal ngga sampai >10 blog, red. hehe), sehingga saya terlupakan mengisi blog ini. Istilahnya jarang dibelai atau Jablai. Seperti lagunya Titi Kamal.

Jadi apa yang membuat terlupakan (tidak sengaja lupa. Yang namanya lupa, mana ada dengan sengaja kan? Hehe) dengan blog ini? Ya sejujurnya saat masuk di ranah daring atau dunia maya, bisa berjam-jam lamanya hanya menikmati bacaan-bacaan yang tersebar. Mulai dari membaca berita koran versi online, mengamati timeline twitter, facebook, plurk, dan sosial networking lainnya. Kadang-kadang saja menulis blog. Nah, menulis blog-nya di tempat lain. Rasanya ngga adil sama blog ini ya? Hehe.

Blog ini pun masih sama seperti posting-posting sebelumnya. Isinya masih bercampur-campur tema. Politik iya. Pendidikan ayo. Media massa pun juga 'dihajar'. Ya pokoknya isi blog ini masih campursari begitu. Kadang-kadang masih 'jaim' menulis asal-asalan. Masih suka dengan gaya tulisan yang formal. Saya belum menyukai gaya tulisan informal. Mungkin sedikit informal tak apalah ya.

Berhubung sudah ingat dengan blog ini lagi, berarti saya mulai rajin posting di sini. Kalau ada tema yang menarik, akan saya tulis di sini. Kalau ngga ada, ya kosong. Hehe.

Read More..